Selasa, 24 Maret 2020

Makalah

Taksonomi Tujuan Pendidikan & Evaluasi Hasil Belajar


                                                      
                                              
                                                                               
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puja dan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabb semesta alam yang telah menghendaki terselesaikannya tugas makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat berbingkai salam tak lupa juga penulis hanturkan kepada junjungan Nabi umat islam Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang yakni Islam Rahmatan Lil ‘alamin. 

Makalah dengan topik pembahasan “Taksonomi Tujuan Pendidikan & Evaluasi Hasil Belajar
” ini disusun dengan ringkas, dengan harapan agar pembaca dapat memahami dan mengambil manfaat dari makalah ini. Terselesaikannya pembuatan makalah ini, tidak terlepas dari bantuan pihak lain.

Oleh karena itu tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini.

Penulis menyadari penyusunan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis mohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna perbaikan isi dari pembahasan topik ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.



20    Oktoer 2016

Penulis,


                                                                                                M Arifin










Daftar Isi

Cover …………………………………………………………………………………………….
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………
Daftar Isi  ………………………………………………………………….............................

1.            BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….…………….
1.1         Latar Belakang ……………………………………………………............................
1.2       Rumusan Masalah .............................................................................................
1.3       Tujuan.................................................................................................................

2.            BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………..……...........
2.1.    Taksonomi Tujuan Pendidikan
2.2     Evaluasi Hasil Belajar
2.3.    Hubungan Antara Taksonomi Tujuan Pendidikan Dan Evaluasi Hasil Belajar


3.            BAB III PENUTUP ………………………………….………………………………...
3.1         Kesimpulan …………………………………………….………………………………

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………..
Lampiran …………………………………………………………………………………….













1
2
3


4
5
5


6
8
12




14

15
16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pertanyaan pokok sebelum penilaian ialah apa yang harus dinilai itu. Terhadap pertanyaan ini kita kembali pada unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar-mengajar. Ada empat unsur utama proses belajar-mengajar yakni tujuan-bahan metode dan alat sertta penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses belajar mengajar pada hakikatnya ada adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya. Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses belajar-mengajar agar sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan. Metode dan alat adalah cara atau teknik yang dugunakan dalam mencapai tujuan. Sedangkan penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa.
Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemapuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris.


1.2.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud taksonomi tujuan pendidikan ?
2.      Apa yang dimaksud evaluasi hasil belajar ?
3.      Apa hubungan antara taksonomi tujuan pendidikan dan evaluasi hasil belajar ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa itu Taksonomi Tujuan Pendidikan
2.      Untuk mengetahui apa itu Evaluasi Hasil Belajar
3.      Untuk mengetahui Hubungan antara Taksonomi tujuan pendidikan dan Evaluasi Hasil belajar
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Taksonomi Tujuan Pendidikan
a.      Pengertian taksonomi
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani “tassein” yang berarti untuk mengklasifikasi, dan “nomos” yang berarti aturan. Suatu pengklasifikasian atau pengelompokan yang disusun berdasarkan ciri-ciri tertentu. Klasifikasi berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Klasifikasi bidang ilmu, kaidah, dan prinsip yang meliputi pengklasifikasian objek.
b.      Arti dan letak taksonomi tujuan pendidikan
Sejak lahirnya kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) yang kemudian disusul oleh lahirnya kurikulum tahun 1975, telah mulai tertanam kesadaran para guru bahwa tujuan pelajaran harus di rumuskan sebelum proses belajar-mengajar berlangsung. Jadi, tujuan pendidikan bukanlah sesuatu yang perlu di rahasiakan. [1]
Tujuan pendidikan dapat dirumuskan pada tiga tingkatan yaitu:
1)      Tujuan umum pendidikan
2)      Tujuan yang didasarkan atas tingkah laku (taksonomi)
3)      Tujuan yang lebih jelas yang dapat dirumuskan secara operasional

c.       Taksonomi Bloom
Model taksonomi Bloom merupakan salah satu pengembangan teori kognitif, yang biasa sering dikaitkan dengan persoalan dalam merumuskan tujuan pembelajaran dan masalah standar evaluasi atau pengukuran hasil belajar sebagai pengembangan sebuah kurikulum. Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Adapun prinsip dasar taksonomi tujuan pendidikan menurut  Bloom dan krathwohl, yaitu[2] :
1)      Prinsip metodelogis
2)      Prinsip psikologis
3)      Prinsip logois
4)      Prinsip tujuan
Taksonomi tujuan pendidikan merupakan suatu kategorisasi tujuan pendidikan, yang umumnya digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Taksonomi tujuan terdiri dari domain-domain kognitif, afektif dan psikomotor.
Berbicara tentang taksonomi perilaku siswa sebagai tujuan belajar, saat ini para ahli pada umumnya sepakat untuk menggunakan pemikiran dari Bloom (Gulo, 2005) sebagai tujuan pembelajaran, yang dikenal dengan sebutan taksonomi Bloom (Bloom’s Taxonomy).
Menurut Bloom perilaku individu dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) ranah, yaitu:
1)      Ranah kognitif; ranah yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar, di dalamnya mencakup:
a)      pengetahuan (knowledge),
b)      pemahaman (comprehension),
c)       penerapan (application),
d)     penguraian (analysis),
e)       memadukan (synthesis),
f)       penilaian (evaluation);
2)      Ranah afektif; ranah yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, di dalamnya mencakup:
a)      Pandangan atau pendapat (oponion)
b)      sikap atau penilaian (attitude,value)
3)      Ranah psikomotor; ranah yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Ranah ini terdiri dari :
a)      kesiapan (set),
b)      peniruan (imitation),
c)       membiasakan (habitual),
d)      menyesuaikan (adaptation)
e)       menciptakan (origination).
Taksonomi ini merupakan kriteria yang dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya.
Dalam setiap aspek taksonomi terkandung kata kerja operasional yang menggambarkan bentuk perilaku yang hendak dicapai melalui suatu pembelajaran.

2.2     EVALUASI HASIL BELAJAR
a.      Pengertian Evaluasi
Evaluasi (bahasa Inggris:Evaluation) adalah proses penilaian. Dalam perusahaan, evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya. Adapun menururt ahli mereka mendefinisikannya sebagai berikut :
a.       Guba dan  Lincoln (hamid hasan, 1988) mendefinisikan evaluasi itu merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluation).
b.      Wiersma dan jurs evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pungukuran dan mungkin juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai.
c.       Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai.
Sedangkan evaluasi hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi.
Dari konsep yang di kemukakan oleh Guba dan Lincoln diatas ada dua karakteristik evaluasi. Pertama, evaluasi merupakan suatu proses, kedua evaluasi berhubungan dengan nilai.[3] 
b.      Hasil belajar sebagai objek penilaian
Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian ialah apa yang harus di nilai. Terhadap pertanyaan ini kita kembali kepada unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar-mengajar. Dalam sistem pendidikan nasioanal rumusan tujuan pendididikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, afektif dan psikomotoris. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak nilai oleh para pendidik di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Selanjutnya, kami akan memaparkan masing-masing dari ranah tersebut.
1)      Penilaian ranah kognitif  terdiri atas :
a)      Tipe hasil belajar : pengetahuan
Istilah pengatahuan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kataknowledge dalam taksonomi Bloom, pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Dalam jenjang kemampuan ini seseorang di tuntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta, dll tanpa harus mengetahui atau dapat menggunakannya. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini antara lain: benar-salah, menjodohkan isian atau jawaban singkat dan pilihan ganda.
b)      Tipe hasil belajar: pemahaman
Kemampuan ini pada umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar-mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang di ajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa harus menghubunkan dengan hal yang lain. Bentuk soal yang sering di gunakan adalah pilihan ganda atau uraian. Kemampuan pemahaman dapat dibedakan kedalam tiga kategori yaitu: 
·         Menerjemahkan (translation)
·         Menginterprestasi (interprestation)
·         Mengekstrapolasi (extrapolation)
c)      Tipe hasil belajar: penerapan
Penerapan adalah pengguaan abstraksi pada situasi yang kongkret atau situasi khusus. Dalam jenjang kemampuan ini peserta didik di tuntut kesanggupan umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan kongkret. Pengukuran ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving)
d)     Tipe hasil belajar: analisis
Dalam jenjang kemapuan ini seseorang di tuntut untuk dapat menguraikan situasi atau keadaan tertentu kedalam unsur-unsur atau komponen-komponen pembentuknya. Kemampuan analisis diklasifikasikan atas tiga kelompok yaitu :
·         Analisis unsur
·         Analisis hubungan
·         Analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi
e)      Tipe hasil belajar: sintetis
Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan faktor yang ada. Hasil yang diperoleh dari penggabungan ini dapat berupa: tulisan dan rencana atau mekanisme.
f)       Tipe hasil belajar: evaluasi
Dalam jenjang kemapuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu. yang terpenting dalam evaluasi ialah menciptakan kriteria tertentu. Yang penting dalam evaluasi ialah menciptakan kondisinya sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengembangkan kriteria standar, atau ukuran untuk mengevaluasi sesuatu.
2)      Penilaian ranah afektif
Ranah afektif meliputi lima jenjang kemapuan yaitu:
a)      Meneriama, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll.
b)      Menjawab, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar
c)      Menilai, yaitu yang berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus.
d)     Organisasi, yakni pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.
e)      Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan sistem nilai yang telah dimiliki sesorang , yang mempengaruhi kepribadian dan tingkah lakunya.
3)      Penilaian ranah psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotoris meliputi tiga tingkatan keterampilan yakni :
a)      Keterampilan motorik (muscular or motor skills) yaitu: memperlihatkan gerak, menunjukan hasil, menggerakan, menampilkan, melompat dan sebagainya.
b)      Manipulasi benda (manipulation of materials or objects) : menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser, mereparasi, dan sebagainya.
c)      Koordinasi neuromuscular, menghubungkan, mengamati, memotong dan sebagainya.

2.3.      Hubungan antara taksonomi tujuan pendidikan dan evaluasi hasil belajar
Pada dasarnya kedua pengertian ini sama-sama mempunyai tujuan yang sama dalam dunia pendidikan. Dengan objek yang sama yaitu peserta didik, disini dibahas tentang bagaimana tujuan pendidikan tercapai dan mengukur hasil akhir belajar dengan evaluasi. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan membaginya menjadi tiga ranah, a) ranah kognitif, b) ranah afektif, c) ranah psikomotoris. Semua ranah ini dilakukan untuk membantu berjalannya kegiatan belajar mengajar agar tujuan pendidikan yang ditentukan tercapai, begitu pula dengan evaluasi hasil belajar itu untuk membantu mengukur seberapa mampu peserta didik menguasai materi yang diajarkan. Tujuan pengajaran pada intinya adalah diperolehnya bentuk tingkah laku menjadi lebih baik, yang belum tahu jadi lebih banyak tahu tentang ilmu pengetauan melalui belajar yang di sampaikan oleh seorang pendidik.


















BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Dari pembahasan evaluasi dan taksonomi di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Evaluasi dalam sistem pendidikan dan pengajaran adalah komponen yang urgen yang harus dilakukan terutama untuk tujuan mengetahui pencapaian keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran yang telah dijalankan.
2.       Tujuan pengajaran pada dasarnya adalah diperolehnya bentuk perubahan tingkah laku baru pada peserta didik yang menurut Benyamin S Bloom terbagi dalam tiga ranah tujuan pengajaran yakni ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang dikenal dengan taksonomi Bloom.
3.       Taksonomi Bloom dikembangkan dari teori psikologi kognitif dan dirumuskan pertama kali tahun 1956. Setiap ranah/domain tersusun atas kategori-kategori atau subkategori yang menunjukkan tingkat kemampuan yang dapat ditunjukkan oleh peserta didik.
4.      Dalam evaluasi pendidikan taksonomi Bloom dapat digunakan sebagai acuan melakukan penilaian secara lebih komprehensif dan terperinci mencakup ketiga ranah (kognitif, afektif dan psikomotor) dan mencakup sub-sub kategorinya.





DAFTAR PUSTAKA

Ari Kunto Suharsisni, “Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan”, Bumi Aksara ; jakarta : 2012
Daryanto , “Evaluasi Pendidikan”, Rineka Cipta ; jakarta : 2008
Sanjaya Wina, “ Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran”, Kencana Prenada Media Grup ; jakarta : 2010
Sudjana Nana, “ Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar” , PT.Remaja Rusda Karya ; Bandung : 2006




[1] Suharsimi Arikunto “Dasar-dasar Evaluasi pendidikan” hal 127
[2] Idem
[3] Wina Sanjaya “perencanaan dan desain sistem pembelajaran” hal 241









Lampiran

Rabu, 26 Oktober 2016

TEHNIK PEMBUATAN SOAL





Daftar Isi

Cover …………………………………………………………………………………………….
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………
Daftar Isi  ………………………………………………………………….............................

1.            BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….…………….
1.1         Latar Belakang ……………………………………………………............................
1.2       Rumusan Masalah .............................................................................................
1.3       Tujuan.................................................................................................................

2.            BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………..……...........
2.1   Cara Merencanakan Penyusunan Soal-Soal ...............................................
2.2.  Penulisan Kisi-Kisi Soal Tes.........................................................................
2.3.  Teknik Penulisan Soal-Soal...........................................................................
.

3.            BAB III PENUTUP ………………………………….………………………………...
3.1         Kesimpulan …………………………………………….………………………………

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………..
Lampiran …………………………………………………………………………………….









1
2
3


4
5
5


6
7
10


14

15
16





BAB I PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang


Setiap kegiatan belajar harus diketahui sejauh mana proses belajar tersebut telah memberikan nilai tambah bagi kemampuan siswa. Salah satu cara untuk melihat peningkatan kemampuan tersebut adalah dengan melakukan tes. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan).

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khusus untuk mata pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik yang diharapkan, setelah mereka menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu. Pertama, tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.

Kedua, butir-butir tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representative dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan, sehingga dapat dianggap dapat mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama pesrta didik mengikuti suatu unit pengajaran. Ketiga, bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi. Keempat, tes hasil belajar harus didasain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kelima, tes hasil belajar harus memiliki realibilitas yang dapat diandalkan. Keenam, tes hasil balajar disamping harus dapat dijadikan alat pengukur keberhasilan belajar siswa, juga harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri.





1.2.        Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat menentukan rumusan masalah yang akan dibahas dalam bab pembahasan adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1.       Bagaimanakah cara mempersiapkan soal esay tes ?
2.       Bagaimanakah cara menyusun soal-soal esai ?
3.       Bagaimana cara pembuatan kisi-kisi soal tes ?

1.3.        Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membahasa tentang teknik penyusunan soal-soal dan perencanaan penulisan soal-soal

adapun manfaat dari penulisan makalah ini diharapkan para pembaca dan penulis dapat mengambil pelajaran dari apa yang termaktub dalam makalah ini.













BAB II PEMBAHASAN


2.1.       Cara Merencanakan Penyusunan Soal-Soal

Untuk menyusun soal-soal esai sebagai indikator-indikator dari pencapaian murid terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajari, beberapa ketentuan perlu diperhatikan khusus mengenai penyusunan tes esai, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.  Tentukan bahwa murid tidak akan menjawab terlalu banyak atau terlalu panjang sehingga waktu tidak cukup.

Soal-soal esai yang baik menuntut agar murid menganalisis soal itu dengan teliti, menentukan apa yang dituntut dan apa yang tidak dituntut (oleh soal) dalam jawaban, memikirkan tentang cara mengorganisasi jawaban yang paling cocok, kemudian menuliskan jawaban tersebut. Proses ini memakan waktu: makin kompleks suatu pertanyaan atau soal, makin membutuhkan waktu yang lebih lama.

2. Jika beberapa soal esai akan diberikan, usahakan agar ada rentetan kesukaran dan kompleksitasnya.

Kebanyakkan tes yang dibuat guru bertujuan untuk membedakan tingkat penguasaan dan pencapaian murid terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan. Jika semua soal esai itu sukar dan kompleks, beberapa orang murid yang kurang kemampuannya tidak akan menghasilkan jawaban yang akseptabel terhadap satu soal pun dari soal-soal tersebut. Akan tetapi, jika soal-soal itu semuanya mudah dan sederhana kita akan memperoleh pengukuran yang tidak memadai dari apa yang sebenarnya yang dapat dilakukan oleh murid yang lebih pandai. Dengan memberikan variasi terhadap kesulitan dan kompleksitas soal –soal itu, guru dapat memproleh informasi tentang murid, baik yang pandai maupun yang tidak pandai.

3.  Kebanyakan tes yang diberikan dikelas (Classroom tests ) menuntut semua murid untuk menjawab soal-soal yang sama.

Jika suatu tes esai digunakan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan suatu program umum dari pengajaran, tiap murid dituntut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama. Memberikan suatu pilihan soal atau pertanyaan akan mengurangi dasar umum (common basis), yang terhadap individu-individu yang berbeda-beda dapat dibandingkan.

Tentu saja, bila diperlukan, dapat juga kita memberikan pilihan terhadap soal-soal yang kita buat. Hal ini diperlukan, misalnya, jika sejumlah murid telah mempelajari bermacam-macam hal, atau jika tujuan pengajaran memang dibedakan bagi bermacam-macam murid. Dalam kondisi seperti ini, murid dapat diharapkan untuk memiliki keluasan kompetensi yang berbeda-beda.

4.   Tulislah seperangkat petunjuk umum tes tersebut.

Pada kebanyakkan tes esai yang diberikan dikelas, soal-soal itu didahului hanya dengan kata-kata “jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut”. Pernyataan ini tidaklah memadai sebagai petunjuk bagi murid dalam menjawab soal-soal atau pernyataan itu.

Petunjuk yang baik bagi suatu tes esai hendaknya mencakup pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
1.       Rencana umum yang harus digunakan murid dalam mengerjakan tes itu;
2.       Bagaimana bentuk jawaban itu harus ditulis;
3.       kriteria umum yang akan digunakan dalam menilai jawaban-jawaban tersebut; dan
4.       Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tes tersebut.

2.2.        Teknik Penulisan Soal-Soal

Untuk menyusun soal-soal esai yang lebih efektif perlu kiranya guru atau pembuat tes memperhatikan saran purwanto (2008), seperti berikut :

a.   Sebelum memulai menulis soal yang dimaksud hendaknya jelas dalam pikiran kita proses mental manakah yang kita harapkan dari murid utnuk menjawab soal tersebut.
Guru atau penyusun tes harus memahami benar-benar mavam-macam jenis respons stimulus (jenis soal) yang diperlukan untuk menimbulkan atau memancing keluarnya respon-respon tersebut. Dengan kata lain, sebelum menuliskan suatu soal esai, guru hendaknyamenentukan lebih dulu pengetahuan atau kecakapan murid yang bagaimana yang hendak kita evaluasi. Jika hal ini sudah jelas, barulah guru mulai menyusun soal-soal yang sesuai dengan kecakapan yang hendak dinilai itu.

b.   Gunakanlah bahan-bahan atau himpunan bahan-bahan dalam menyususn soal-soal esai tersebut.
Seperti kita ketahui, soal esai dimaksudkan untuk mengetahui atau menilai kemampuan murid mengemukakan pendapat dan buah pikirannya dalam bentuk uraian tertulis. Untuk menentukan apakah seorang murid dapat mengerjakan hal seperti itu, guru atau penyusun tes harus dapat membawa mereka (dengan soal yang dibuatnya) kedalam suatu siatuasi yang mengahruskan mereka melakukan lebih dari hanya mereproduksi atau mengingat bahan pelajaran seperti yang ernah diprolehnya dalam buku teks atau didlam diskusi dan ceramah dalam kelas.

c.  Mulailah pertanyaan atau soal esai itu dengan kata-kata seperti: “bandingkan, berilah alas an, berilah contoh-contoh yang sesuai, terangkan bagaimana, jelaskan/ramalkan apa yang akan terjadi jika, jelaskan pendapat anda”
Penggunaan kata-kata seperti itu, jiak dikombinasikan dengan penggunaan bahan-bahan, akan membantu guru atau penyusun soal untuk menyatakan tugas-tugas yang dituntut dari murid untuk memilih, men gorgaisasi atau menysusn dan mengunakan pengeathuan mereka.
Janganlah memulai soal esai dengan kata-kata: “apa, siapa, kapan, bilamana, berapa”, karena kata-kata ini cenderung untuk menuntut pengerjaan yang berdifat reproduksi atau mengingat kembali apa yang telah diterangkan atau dibaca dalam buku. Hal yang demikian tidak sesuai dengan maksud dan tujuan soal esai.

d.  Tulislah pertanyaan atau soal esai itu sedemikian rupa sehingga tugas apa yang harus dilakukan murid jelas dan tidak mempunyai arti ganda (ambiguous) bagi setiap murid
Kita menghedaki suatu skor yang merupakan penelitian terhadap suatu kemampuan khusus (specified task) dari murid, dan bukan bagaimana murid dapat memahami tugas apa yang dia perkirakan untuk dilakuakn. Dengan kata lain, jawaban soal esai jangalah terlalu umum, sehingga menyulitkan guru. Utnuk menskornya akibat dari jawaban-jawaban murid yang heterogen, dan dengan soal yang jawabannya hanaya diterka-terka (guessing) serta mutu jawaban yang berbeda-beda.

e.  Soal esai berhubungan dengan hal-hal yang merupakan “controversial issue” dalam masyarakat.
Penyusunannya hendaknya diarahkan untuk menilai bagaimana pendapat dan pengertian murid terhadap issue yang ditanyakan, dan bukan untuk menuntut murid agar menerima suatu kesimpulan atau cara pemecahan tertentu. Kita mengetahui bahwa terhadap banyak issue yang dialami individu dan masyarakat tidak ada jawaban atau kesimpulan yang bersifat umum atau yang dianggap benar oleh semua orang.
Dengan soal semacam ini guru hendaknya jangan menilai apakah pendapat murid sesuai dengan pendapatnya atau sesuai dengan apa yang telah diterangkan, tetapi ia hendaknya menilai bagaimana kemampuan murid dalam mengemukakan pendapatnya sendiri, dan caranya mempertanyakan dengan alas an yang tepat dan logis.

f.    Usahakan agar soal esai yang kita susun itu benar-benar dapat menimbulkan prilaku (behavior) yang kita kehendaki untuk dialkuakn oleh murid.
Soal-sola esai buatan guru seringkali bersifat kurang menuntut kemampuan skil atau aplikasi seperti misalnya:

1.   “berilah defenisi tentang apa yang dimaksud denga puasa?”
2.   “apa yang dimaksud dengan zakat fitrah dan zakat mall? Dan apa pula perbedaannya?”.

Dalam soal-soal seperti tersebut diatas guru tidak menekankan pada “apa atau bagaimana pendapat murid itu sebenarnya”, tetapi pada “apakah murid mengetahui materi factual yang telah dipelajarinya”. Pertanyaan seperti ini bukanlah tidak boleh, tetapi cenderung bersifat hafalan atau ingatan dan kurang merangsang murid untuk berfikir yang sebenarnya.

g.   Sesuaikan panjang dan pendeknya dan kompleksitas jawaban dengan tingkat kematangan murid. Meskipun kompleksitasnyaa dan panjang pendeknya jawaban pada semuaa tingkat terletak pada kemampuan soal esay itu dalam menuntut murid unttuk memilih dan mengorganisasi ide-idenya sendiri dengan cara nya sendiri, cara mengorganisasi dan mengekspresikan jawaban pada murid sd tidak mungkin sama dengan murid slp, apalagi sla. Sehubungan dengan itu soal 2 yang telah dibicarakan pada nomor 2 dimuka mungkin lebih tepat untuk murid sla daripada untuk murid sd atau pun slp.


2.3.        Penulisan Kisi-Kisi Soal Tes

Penulisan kisi-kis soal adalah kerangka dasar yang dipergunakan untuk penyusunan soal dalam evaluasi proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan kisi-kisi soal ini, maka seorang guru dengan mudah dapat menyusun soal-soal evaluasi. Kisi-kisi soal inilah yang memberikan batasan guru dalam menyusun soal evaluasi.
Dengan kisi-kisi penulisan soal maka tidak akan terjadi penyimpangan tujuan dan sasaran dari penulisan soal untuk evaluasi penulisan soal. Guru hanya mengikuti arah dan isi yang diharapkan dalam kisi-kisi penulsan soal yang dimaksudkan.

Dalam penulisan kisi-kisi soal, guru harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.   Nama sekolah
Nama sekolah ini menunjukkan tempat penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang akan dievaluasi proses pembelajarannya. Ini merupakan identitas sekolah.

2.    Satuan pendidikan
Satuan pendidikan menunjukkan tingkatan pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dan akan dievaluasi. Satuan pendidikan ini  misalnya SD, SMP, SMA/SMK.

3.    Mata Pelajaran
Mata pelajaran yang dimaksudkan dalam hal ini adalah mata pelajaran yang akan dibuatkan kisi-kisi soal dan dievaluasi hasil belajar anak-anak. Misalnya Matematika.

4.    Kelas/semester
Kelas/semester menunjukkan tingkatan yang akan dievaluasi, dengan menvantumkan kelas atau semsester ini, maka kita semakin tahu batasan materi yang akan kita jadikan soal evaluasi proses.

5.   Kurikulum acuan
Seperti yang kita ketahui model kurikulum di negeri ini selalu berganti, akhirnya ada tumpah tindih antara kurikulum yang digunakan dan kurikulum baru. Untuk hal tersebut maka kita informasikan kurikulum yang digunakan dalam penyusunan kisi-kisi penulisan soal. Misalny, KTSP.

6.   Alokasi waktu
Alokasi waktu ini ditulis sebagai penyediaan waktu untuk penyelesaian soal. Dengan alokasi ini, maka kita dapa memperkirakan kesulitan soal. Dan jumlah soal yang harus dibuat guru agar anak-anak tidak kehabisan waktu saat mengerjakan soal.

7.   Jumlah soal
Jumlah soal menunjukkan berapa banyak soal yang harus dibuat dan dikerjakan anak-anak sesuai dengan jatah alokasi waktu yang sudah dikerjakan untuk ujian bersangkutan. Dalam hal ini guru sudah memperkirakan penggunaan waktu untk masing-masing soal.



8.   Penulis/guru mata pelajaran
Ini menunjukkan identias guru mata pelajaran atau penulis kisi-kisi soal. Hal ini sangat penting untuk mengetahui tingkat kelayakan seseorang dalam penuisan kisi-kisi dan soalnya.

9.   Standar kompetensi
Standar kompetensi menunjukan kondis standar yang akan dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan standar kompetensi ini maka guru dan anak didik dapat mempersiapakan segala yang harus dilakukan.

10.  Kompetensi dasar
Kompetensi dasar menunjukkan hal yang seharusnya dimiliki oleh anak didik setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam penulisan kisi-kisi soal aspek ini kita munculkan untuk mengevaluasi tingkat pencapaiannya. 

11.   Materi pelajaran
Ini menunjukkan semua materi yang  diberkan untuk proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam penulisan kisi-kisi soal, aspek ini merupakan batasan isi dari materi pelajaran yang kita jadikan soal.

12.   Indikator soal
Indicator soal menunjukan perkiraan kondisi yang diambil dalam soal ujian. Indikasi yang bagaimana dari materi pelajaran yang diterapkan disekolah.

13.   Bentuk soal
Bentuk soal yang dimaksudkan adalah subjektif tes atau objektif tes. Untuk memudahkan kita dalam menyusun soal, maka kita harus menentukan bentuk yes dalam setiap materi pelajaran yang kita ujikan dalam proses evaluasi.





14.   Nomor soal
Nomor soal menunjukkan urutan soal untuk materi atau soal yang guru buat. Dal hal ini, setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar, penulisan nomor soal dikisi-kisi penulisan soal tidak selalu berurutan.guru dapat menulis secara acak. Misalnya,  standar kompetensi A dan komptensi dasar A1 dapat saja diletakkan pada nomor 3 dan seterusnya sehingga tidak selalu standar kompetensi pertama dan kompetensir dasar pertama harus diurutkan di nomor satu.




























BAB III PENUTUP



3.1.       Kesimpulan
Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu :
1. sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.

2.  sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah beberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.

  Dalam penulisan soal harus diperhatikan beberapa urutan yaitu kita harus memperhatikan Tujuan Tes – memperhatikan SKL – menentukan Materi – Menentukan Kisi-kisi atau indikator – lalu baru melakukan penulisan soal- kemudian soal di validasi – selanjutnya sola di cek kaidah penulisan soal dan dibuatlah pedoman penskorannya.


3.2.        Saran 

Demikian makalah yang dapat kami susun, semoga bermanfaat dan memberikan  tambahan pengetahuan kita sebagai calon pendidik agar dapat memahami arti dan manfaat perencanaan dalam pendidikan.







DAFTAR PUSTAKA


Aunurrhman, Dr, Belajar dan Pembelajaran, Alfabeta, 2010.
Dimyati, Drs, Mudjiono, Drs, Belajar dan Pembelajaran, PT Rineka Cifta. 2002.
Harjanto, Drs, Perencanaan Pengajaran, PT Rineka Cifta, 2008
Ngalim Purwanto, M, Drs, MP, Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran, PT Remaja Rosdakarya. Bandung.1997.
Zainal Arifin,Drs, Evaluasi Pembelajaran, PT Rosdakarya, Bandung, 2009.
 publisher http://mtsmaarif18.blogspot.com/














Lampiran